Rabu, 18 Februari 2015

merantau


Niğde sebuah kota kecil di sebelah selatan Anatolia turki disanalah aku memulai hidup baru ku  more than 6982 km away from my beloved family 




matahari sudah mulai meninggalkan kami,meninggalkan kehangatnya dı penghujung musım gugur hanya sesekali cicitan burung terdengar sayup bersembunyi di rimbunnya semak belukar menıkmati sisa sisa keramahan sang mentari.Hembusan nafas sang musim dingin belum mengusik semangat ku untuk menjajaki negeri ottoman itu berbekal sepasang kets jaket dan kamera ku langkahkan kaki menyapa senja .

Ach...hanya segini saja belaian mu musim dingin? keangkuhan merajaiku,dilahirkan dan tumbuh di negara berlimpah matahari ini tak membuat ku gentar Namun Tuhan mempersiapkan rencana lain buat ku dua minggu sudah ku daki bukit bukıt kecil disekitar ku sampai akhirnya musim dingin benar benar menyerang pertahananku,pertahanan ego ku

Dengan cantiknya serpihan putih itu menari-nari di luar jendela kamar ku seakan mentertawakan kelemahanku.dengan penuh kekalahan aku berbaring tak berdaya dı atas pembaringanku meringkuk mencari kehangatan dari lembaran lembaran selimut yang ku tertawakan beberapa minggu yang lalu 



Kali ini aku menyerah sungguh lemah tubuh ini berjalan,tak kan mampu aku melawan kejamnya musim dingin ini.dikelilingi oleh keındahan yang dapat membunuhku setiap saat tapi aku tak akan berhenti sampai sini,aku belum menjejakan kaki ku ke seluruh negeri ottoman ini aku akan menungu sampai mataharı kembali datang menghampirı ku dan mengiringi langkah ku lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar